(Based on the true story/By: Mohammad Amin/Dimuat di Harian Pontianak Post edisi 24 Mei 2009)

Terik matahari siang itu terasa membakar kulitku. Udara kering ditambah hawa yang begitu gerah membuat kepala menjadi agak pusing. Meski sudah sekitar satu jam perjalanan dari desa Gading kutempuh bersama abangku, tapi masih butuh separuh waktu lagi untuk sampai dirumahku. Perjalanan pulang ini terasa begitu lama, padahal tadi pagi ketika berangkat terasa ringan dan cepat. Apa karena keberangkatanku didukung oleh energi senang, harapan sekaligus penasaran yang sebulan belakangan ini menghantui hari-hariku? Sementara pulangnya terasa begitu berat karena ternyata harapan yang terlalu tinggi itu tiba-tiba meluncur bebas dan meredup tanpa dapat kuhentikan? Ah, entahlah, yang kutahu aku hanya ingin cepat sampai kerumah segera. Bayangan segelas Segar Sari rasa lemon kesukaanku mulai melayang-layang di depan mataku. Ku tarik gas sepeda motor Mio merah kesayanganku yang pagi tadi sempat tersangkut di lumpur setinggi lutut. Kendaraan yang kemarin sudah dicuci mengkilat itu kini tak jelas lagi bentuknya tertutupi oleh lumpur yang mulai kering.